Jumat, 06 Januari 2012

KARYA ILMIAH


TUGAS INDIVIDU
KARYA ILMIAH MENULIS

JENIS-JENIS PUISI INDONESIA DALAM PRIODESASI
KESUSATRAAN INDONESIA

Dosen Pembimbing : Drs. J. TINAMBUNAN, M.Ed



DISUSUN OLEH : ELISA
NPM : 10621880
3. A


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2011
BAB I PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG MASALAH
            Puisi dari dulu hingga sekarang selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, utuk memahami dan mengerti puisi diperlukan uraian tentang jenis-jenis puisi indonesia dibagi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru (modern).
            Karya sastra terdiri atas dua jenis, yaitu prosa (karangan bebas) dan puisi. Puisi selalu berkembang dari dahulu hingga sekarang. Oleh karena itu, pengertian puisi pun dari waktu kewaktu  selalu berubah meskipun hakikatnya tetap sama. Perubahan pengertian itu disebabkan puisi seslalu berkembang karena perubahan konsep keindahan dan evaluasi selera. ( Riffaterre, 1978, hlm 1).
            Puisi disebut karangan terikat. Akan tetapi pada waktu sekarang, para penyair berusaha melepaskan iri dari aturan yang ketat itu sehingga terciptalah sajak bebas.
            Puisi baru (modern) menyimpangi pengertian puisi menurut pandangan lama. Puisi baru tidak terikat oleh bentuk-bentuk formal, korespodensi, dan periodesitas. Oleh karena itu puisi baru disebut puisi bebas atau sajak bebas. Mempelajari bentuk-bentuk lama kita dapat ketinggian budi. Pertajaman imajinasi masyarakat lama dengan dekatnya dengan alam,menjadikan alam sebagai alat komunikasi dengan tujuan mendidik.
            Melalui bentuk-bentuk puisi lama, dan penyajian gagasanya, memperlihatkan keaslian, kehalusan puisi masyarakat lama yang dapat dicontoh oleh masyarakat sekarang ini.

1.2 TUJUAN
            Tujuan dari penulisan karya ilmiah mengenai ”Jenis-jenis puisi indonesia dalam priodesasi kesusastraan indonesia” ini merupakan memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Menulis, juga untuk mengetahui atau mengenal puisi lama dan puisi baru (modern).



1.3 RUANG LINGKUP
            Pada karya tulis ilmiah yang berisi tentang jenis-jenis puisi indonesia dalam periodesasi kesusastraan indonesia ini memiliki ruang lingkup sebagai berikut :
1.      Penertian puisi lama dan puisi baru (Modren)
2.      Macam-macam puisi lama
3.      Macam-macam puisi baru (Modern)

1.4 KERANGKA TEORI
Berikut ini pengertian puisi menurut beberapa para ahli :
1.      Alternbernd, puisi adalah pendrama pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama.
2.      Samuel Taylor Coleridge, puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah
3.      Duaton, puisi merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistic dalam bahasa emosional serta berirama
            Jadi, puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan berirama.

1.5  PEMBAHASAN  
1.  Jenis-jenis Puisi Indonesia Lama (Melayu)
            Puisi Indonesia lama disebut juga puisi melayu klasik. Sesuai dengan masyarakat lama, puisi Melayu Klasik ini mengespresikan pikiran, gagasan, perasaan orang pada zamanya, dan adat istiadat pada zaman dahulu (bandingkan Alisjahbana, 1963, hlm. 5).
            Puisi lama sangat terikat pada aturan-aturan yang ketat, yang mutlak. Dalam arti, aturan-aturan itu tidak boleh di ubah atau tidak boleh dilangar. Seperti halnya, bentuk syair dan pantun, pola sajak akhir syair harus a – a – a – a dan pantun harus berpola sajak akhir a – b –  a – b .
Ada  ber macam-macam jenis puisi lama sebagai berikut:
1.      Mantra
Mantra merupakan salah satu jenis puisi lama yang paling tua. Awalnya, keberadaan mantra dalam masyarakat melayu bukanlah difungsikan sebagai sebuah karya sastra, melainkan lebih kepada adat dan kepercayaan setempat .
Contoh mantra sebagai beikut:

            Mantra Mengkap Buaya
Hai si jambu Rakyat, sambut pekiriman,
Puteri Ruduk di gunung ledang,
Ambangcang masak sebiji bulat,
Penyikat tujuh penyakit,
Pengarang tujuh pengarang,
Diorak dikumbang jangan,
Lulur lalu ditelan,
Kalu tidak kau sambut,
Dua hari, jangan ketiga,
Mati tersadai pangkalan tambang,
Kalu kau sambut,
Ke darat kau dapat makan,
Ke laut kau dapat minum,
Aku tahu asal kau jadi,
Tulang buku tebu asal kau jadi,
Darahkau gula, dadakau upih,
Gigikau tunjang berembang,
Ridapkau cucuran atap.
            (Alisjahbana)
Ciri-ciri mantra:
Ø Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.
Ø Bersifat lisan, sakti atau magis
Ø Adanya perulangan
Ø Metafora merupakan unsur penting
Ø Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
Ø Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.

2.      Gurindam
Gurindam merupakan puisi lama yang sebenarnya bukan berasal dari negri sendiri, melinkan dari negri india yang dibawa pasukan tamil yang dahulu pernah singgah dan menetap di salah satu kepulauan nusantara.
Contoh gurindam sebagai berikut :

Jika kamu bersifat budiman,
Dipandang sebagai unga ditaman.

Jika kamu bersifat dermawan,
Segala orang dapat kau tawan.

Jika kamu bersifat  murah,
Segala manusia datang menyerah.
                        (Alisjahbana, 1996, hlm. 85)
Ciri-ciri gurindam
Ø Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian
Ø baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

3.      Syair
Syair meupkan salah satu karya sastra yang bukan berasal dari tanah nusantara asli. Syair merupakan sebuah karya sastra yang awalnya dibawa oleh bangsa Arab ke nusantara saat era perkembangan agama islam.
Contoh syair sebagai berikut:

Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Ciri-ciri syair
Ø Terdiri dari 4 baris
Ø Berirama aaaa
Ø Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair

4.      Pantun
Pantun merupakan sebuh puisi asli anah melayu yang sudah membudaya dan mengakar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Contoh pantun sebagai berikut:

Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
Ciri – cirri pantun :
Ø Setiap bait terdiri 4 baris
Ø Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
Ø Baris 3 dan 4 merupakan isi
Ø Bersajak a – b – a – b
Ø Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
Ø Berasal dari Melayu (Indonesia)

5.      Seloka
Seloka merupakan karya sastra bentuk sebuah pantun berbait yang tidak akan cukup diungkapkan dengan satu bai saja, krena pantun berbait ini merupakan jalinan atas beberapa bait.
Contoh seloka sebagai berikut:
Baik budi emak si randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diturunkan
Anak pulang kelaparan
Anak di pangku diletakkan
Kera ihutan disusui

Ciri-ciri seloka
Ø Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,
Ø Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

6. Karmina.
Karmina merupakan sebuah karya sastra berupa pantun yang sangat kilat. Artinya hanya terdiri atas satu bait atau dua baris.
 Contoh karmina ssebagai berikut:

Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula
 Ciri-ciri karmina:
Ø Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
Ø Bersajak aa-aa, aa-bb
Ø Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
Ø Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
Ø Semua baris diawali huruf capital.
Ø Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
Ø Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.

1.      Talibun
Talibun adalah karya sastra yang bentuk sebuah pantun yang jumlah barisnya lebih dari empat, namun harus memiliki hitungin yang genap. Misalnya enam baris, delapan baris dan seterusnya.
Jika jumlah barisnya terdiri atas enam baris, maka tiga baris pertama harus beruapa sampiran dan tiga baris berikutnya berupa isi.
Contoh talibun sebagai berikut:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu

Ciri-ciri talibun :
Ø   Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Ø   Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Ø   Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Ø   Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Ø   Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

2.      Jenis-Jenis Puisi Indonesia Baru (Modren)

            Puisi Indonesia Baru disebut juga puisi Indonesia modern. Sesuai dengan masyarakat baru, puisi indonesia modern mengedepankan pikiran,gagasa, perasaan orang pada masa kini.
            Puisi indonesia baru tidak dapat dipisahkan dari puisi lama sama sekali karena masih ada hubungan kesejajaran. Sastra yang baru merupakan tanggapan sastra lama. Begitu juga puisi Indonesia baru merupakan tanggapan terhadap unsur-unsur puisi lama. Unsur-unsur lama yang disimpangi dapat berupa muatannya (isinya) atau bentuk formal pengungkapanya.
            Dalam puisi baru aturan-aturan itu dapat diperlonggar walaupun masih ada pola sajak akhir. Begitu juga, pembaitannya pisi baru menjadi lebih longgar. Dalam puisi lama tidak ada bait sajak yang gasal, dalam puisi baru ada sajak 3 baris, 5 baris, 7 baris, atau 9 baris.
            Puisi Indonesia baru (Modren) berkembang sejak tahun 1920 hingga sekarang. Sesuai dengan perkembangan kesusastraan dan zaman, bentuk dan muatan puisi Indonesia baru selalu berkembang. Dengan demikian, jenis-jenis puisi Indonesia baru menjadi beragam-ragam.

Macam-macam dari puisi baru ( Modren ) sebagai berikut:
1.      Distikon
Distikon merupakan sajak yang terdiri dari dua baris dalam setiap kalimat dalam setiap baitnya.
Contoh distikon sebagai berikut:

            Kucari  Jawab
Di mata air, di dasar kolan,
Kucari jawab teka-teki alam.

Dikawan awam kain ke mari,
Di situ juga jawabnya ku cari.

…………………………..

Ke dalam hati, jiwa sendiri
Kuselam jawab! Tidak tercari…

Ya, Allah yang maha dalam,
Berikan jawab teka-teki alam,

………………………………
Hatiku haus ‘kan kebenaran,
Berikan jawab di hatiku sekarang……
                        (Ttegkang, 1974, halaman 29)

2.      Terzina
Terzina atau sajak tiga seuntai, artinya setiap baitnya terdiri dari tiga buah kalimat.
Contoh terzina sebagai berikut:
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane

3.      Kuatrin
Kuatrin adalah sajak empat seuntai, artinya setiap baitnya terdiri dari empat buah kalimat.
Contoh kuatrin sebagai berikut:

Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane

4.      Kuint
Kuint adalah sajak yang terdiri dari lima baris kalimat dalam setiap barisnya.
Contoh kuint sebagai berikut:
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

5.      Sektet
Sektet adalah sajak atau puisi yang terdiri dari enam buat kalimat dalam setiap baitnya.
Contoh sektet sebagai berikut:

Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

6.      Septina
Septina adalah sajak yang setiap baitnya terdiri dari tujuh buah kalimat.
Contoh septina sebagai berikut:
Duduk dipantai tanah yang permai
Tempai gelombang pecah berderai
Berbuih putih dipasir berderai
Tampak pilau dilautan hijau
Gnung gemunung bagus rupanya
Ditampah air mulia tempatnya
Tumpah darahku indonesia namanya
 
7.      Stanza (Oktav)
Stanza adalah sajak delapan seuntai, yaitu setiap baitnya terdiri dari delapan buah kalimat.
Contoh stanza sebagai berikut:

Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

8.      Soneta
Soneta adalah sajak paling terkenal yang beradaptasi dari puisi-puisi Italia, soneta terdiri dari atas empat belas baris.
Contoh soneta sebagai berikut:



            Dalam Gelombang

Alun bergulung naik meninggi,
Turun melembah jauh ke bawah,
Lidah ombak menyerak biuh,
Surut kembali di air gemuruh,

Kami mengalun di samud’ra-Mu,
Bersorak tinggi membukit,
Sedih mengadu jatuh kebawah,
Silih berganti tiada henti,

Di dalam suka di dalam duka,
Waktu bahagia waktu merana,
Masa tertawa masa kecewa,

Kami berbuai dalam nafasmu,
Tiada kuasa tiada berdaya,
Turun naik dalam rama-Mu.
            (Alisjahbana, 1984, hlm. 4)

1.6 HASIL
            Karya sastra terdiri atas 2 jenis, yaitu prosa dan puisi. Biasanya prosa disebut karangan bebas, sedangkan puisi disebut karangan terikat. Akan tetapi,pada waktu sekarang, para penyair berusaha melepaskan diri dari aturan yang ketat itu hingga terciptalah sajak bebas.
            Macam-macamjenis puisi lama, Pantun adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam setiap bait, dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris berikutnya merupakan isi. Syair merupakan sajak epis yang bercerita makaterdiri dari rangkaian bait yang membentuk cerita. Syair terdiri empat baris dalam satu bait dan bersajak akhir a-a-a-a. Mantra, Gurindam, Seloka, karmina dan talibun.
            Puisi baru (Modren) merupakan bebas tidak terikat oleh aturan-aturan.bentuk-bentuk. Puisi baru memiliki juga memiliki macam-macam bentuk puisi yaitu Distikon, Terzina, Kuatrin, Kuint, Sektet, Septina, Stanza (Oktav), Soneta.


BAB II PENUTUP

2.1 KESIMPULAN

            Sebagai penutup karya ilmiah ini dapat kita simpulkan bahwa menurut zamannya jenis-jenis puisi Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru (Modren).
Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh berbagai aturan, seperti jumlah kata dalam satu barisnya, jumlah baris dalam satu baitnya, persajakan/rima, danbanyaknya suatu kata dalam tiap baris. Puisi baru (Modren) yakni tidak terlalu mementigkan aturan-aturan.
            Puisi lama memiliki bermacam-macam jenis yaitu mantra, gurindam, syair, pantun dan seloka. Sedangkan puisi baru (Modren) bentuk-bentuknya yaitu distikon, terzina, kuatrin, kuint, sektet, septina, stanza (Oktav) , sonata, dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui jenis-jenis puisi yang ada di Indonesia.

2.2 SARAN

            Saran saya sebagai penerus bangsa terutama bagi calon pendidik jurusan bahasa indonesia, harus mengembangkan bakatnya dalam pengetahuan belajar serta menciptakan berbagai puisi untuk bukti kita telah menguasai jurusan yang kita pilih dan berkarya sebanyak-banyaknya untuk contoh bagi peserta kita di kemudian hari.







DAFTAR PUSTAKA

Prodopo, 2011, Puisi Lama, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Februari 2011
Zulfahnur, Kinayati, Sri Suhita, 1996-1997, Apresiasi Puisi, Deprtemen Pendidikan dan Kebudayaan, November 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar